Agama Seperti yang telah disebutkan di atas, kesetaraan


Agama
Islam sebagai agama yang rahmatan lil
alamin mengatur segala aspek kehidupan masyarakat, baik di bidang politik,
sosial, ekonomi, kenegaraan maupun kebersihan personal suatu individu. Isu-isu
sosial yang hangat di masyarakat tak luput pula diatur oleh agama islam sesuai
dengan Al-Quran dan hadist. Dengan pedoman itulah seharusnya masyarakat secara umum
dan umat islam secara khusus mengkiblatkan segala urusan dan masalahnya kembali
ke Al-Quran dan hadist. Dari sini lah terbentuk pentingnya mempelajari ilmu
agama karena akar dari segala permasalahan harus selalu disangkutpautkan dengan
keyakinan atau agama masing-masing.

Isu
mengenai kesetaraan gender akhir-akhir ini selalu menjadi perbincangan hangat,
bahkan tak urung pula manusia saling berdebat dan mencaci tanpa adanya landasan
kuat dari ucapannya tersebut. Istilah feminisme kontemporer muncul ke permukaan
dan membuat kaum wanita memperjuangkan “hak-hak”nya yang dirasa direnggut
karena adanya ketidaksetaraan gender. Oleh karena itu, apa sebenarnya yang
dimaksud kesetaraan gender? Apakah yang dimaksud itu sama dengan keadilan
gender? Seperti yang telah disebutkan di atas, kesetaraan dan keadilan merujuk
kepada hal yang berbeda walaupun sering disamakan maknanya. Jelas diketahui
bahwa kesetaraan bermakna keadaan yang memungkinkan setiap orang menerima
perlakuan yang sama, terlepas dari siapa atau di mana orang itu berada. Namun,
di sisi lain, keadilan mengandung makna hak yang adil menurut kewajaran dan
tanpa bias.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Lalu
bagaimana pandangan Islam dengan munculnya istilah-istilah feminisme di
masyarakat? Konsep
Islam, sebagaimana termuat dalam Al-qur’an, memperlakukan baik individu
perempuan dan laki-laki adalah sama, karena hal ini berhubungan antara Allah
dan individu perempuan dan laki-laki tersebut. Dalam perspektif normativitas
Islam, tinggi rendahnya kualitas seseorang hanya terletak pada tinggi-rendahnya
kualitas pengabdian dan ketakwaannya kepada Allah swt. Allah memberikan
penghargaan yang sama dan setimpal kepada manusia dengan tidak membedakan
antara laki-laki dan perempuan atas semua amal yang dikerjakannya.

Feminist
di luar sana yang memperjuangkan haknya untuk memperoleh kesetaraan di semua
bidang dengan kaum pria kurang mempertimbangkan sisi agama di balik konsep
kesetaraan gender yang dianutnya. Kesetaraan
yang telah diakui oleh Al Qur’an tersebut, bukan berarti harus sama antara
laki- laki dan perempuan dalam segala hal. Untuk menjaga kesimbangan alam (sunnatu tadafu’),
harus ada sesuatu yang berbeda, yang masing-masing mempunyai fungsi dan tugas
tersendiri. Tanpa itu, dunia, bahkan alam ini akan berhenti dan hancur. 
Oleh karenanya, sebagai hikmah dari Allah untuk menciptakan dua pasang manusia
yang berbeda, bukan hanya pada bentuk dan postur tubuh serta jenis kelaminnya
saja, akan tetapi juga pada emosional dan  komposisi kimia dalam tubuh.

Begitu pula dalam rumah
tangga, wanita yang menyebut dirinya sebagai feminist akan menentang pemikiran
pria selaku seorang suami yang berperan sebagai kepala rumah tangga dalam
membatasi kegiatan sang istri di luar rumah. Suami yang tak setuju istrinya
bekerja dan membantu mencari nafkah akan di cap oleh seorang feminist
kontemporer sebagai kaum yang tidak memperdulikan kesetaraan gender. Sang
feminist akan beranggapan bahwa wanita sudah tidak sepatutnya dikekang oleh
kebijakan suami. Menurut konsep kesetaraan gender yang dianutnya, wanita
memiliki peran dan hak membuat kebijakan yang sama dengan suaminya. Padahal
sudah jelas tertera di Surat An-Nisa:34 yang berbunyi “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan
(istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas
sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan
nafkah dari sebagian harta mereka.”

Namun ada sedikit
kekeliruan penafsiran akibat adanya pergeseran zaman, di mana menimbulkan
penafsiran bahwa lelaki merupakan pemimpin perempuan karena istrinya harus
patuh pada suami dan suami mempunyai hak untuk mendisiplinkan istri. Berdasarkan
pandangan teks dan literature Islam klasik tersebut masih terlihat bahwa kaum
perempuan masih termarjinalkan atau dengan kata lain perempuan masih
berada di bawah dominasi laki-laki. Tak dapat dipungkiri bahwa penafsiran
ulama-ulama klasik tentang konsep persamaan laki-laki dan perempuan jika
dilihat dari perspektif saat ini bisa saja dinilai sebagai bias. Sebab
penafsiran-penafsiran masa lampau itu tidak dapat dilepaskan dengan konteks
sosio-historis saat itu. Di samping adanya kewajiban bagi laki-laki untuk
memberikan nafkah keluarga menjadi penyebab superioritas mendominasinya
keputusan laki-laki dalam sebuah keluarga. Sebagai kepala keluarga laki-lakilah
penentu dan pemutus segala permasalahan yang berkaitan dengan keluarga.

Dari masalah itulah,
sesuai dengan perkembangan zaman dan pergerseran sosio-historis zaman sekarang,
mulai muncul pemikiran-pemikiran baru yang berbeda dengan pemikiran orang-orang
dahulu. Sehingga konsep kesetaraan gender mulai bermunculan yang bahkan tidak
sedikit yang melenceng dari kaidah dan ajaran agama. Contohnya pada orang-orang
di negara barat yang memperjuangkan hak wanita di sana untuk dapat bertelanjang
dada layaknya kaum pria umumnya. Tentu “hak” tersebut tidak sesuai dengan norma
dan budaya di Indonesia dan diharapkan tidak ada masyarakat Indonesia yang
sampai memiliki pemikiran tersebut. Namun dari hal tersebut tergambar jelas
sudah bergesernya konsep kesetaraan gender. Sesuai dengan Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan, kesetaraan gender ini memiliki beberapa sasaran penting yaitu
mengakhiri segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, menghilangkan segala
bentuk kekerasan dan eksploitasi perempuan, menjamin partisipasi penuh dan efektif
di semua tingkat pengambilan keputusan, sampai menjamin akses universal
terhadap kesehatan seksual dan reproduksi.

Dalam pandangan islam, menyakiti, menyiksa, dan
merendahkan perempuan adalah hal yang dilarang dilakukan oleh siapapun,
terlebih dilakukan oleh laki-laki. Islam sedemikian rupa mengatur hubungan
antara perempuan dan laki-laki sebagaimana pula islam memuliakan perempuan
dibanding laki-laki. Bahkan Rasulullah SAW memberikan gelaran sangat mulia
kepada laki-laki yang senantiasa memuliakan perempuan dan mencela laki-laki
yang merendahkan dan meremehkan perempuan. Beliau bersabda: “Barang siapa yang
memuliakan perempuan, maka dia itu mulia, dan barang siapa yang menghina
perempuan maka dia adalah hina.” Alangkah tingginya penghargaan islam terhadap
para lelaki yang tidak melakukan kekerasan fisik, penghinaan, pelecehan
seksual, dan tidak menghargai kelebihan yang dimiliki perempuan. Oleh karena
itu, jika seorang lelaki itu benar-benar mulia serta sadar atas ajaran
agamanya, tentu ia tidak akan melakukan hal-hal yang menyakiti wanita sehingga
akan terminimalisasinya segala bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap
perempuan.

x

Hi!
I'm William!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out